409 KALI DIBACA

Tak Lengser Sekarang, Hafriansyah akan….

Tak Lengser Sekarang, Hafriansyah akan….
Dunner Siagian

Oleh: DUNNER SIAGIAN, Pemimpin Umum

Hasil akhir dari upaya melengserkan Hefriansyah Noor dari jabatan Wali Kota Siantar lewat jalur konstitusi, diprediksi bakal menjadi tolak ukur Pilkada Siantar mendatang.

Ada dua hal yang pasti dari hasil akhir dalam upaya melengserkan Hefriansyah menggunakan mekanisme Hak Angket DPRD Siantar. Berhasil, atau gagal. Jika upaya pelengseran Hefriansyah ampuh dan berhasil lewat jalur Pemakzulan, maka jelaslah Hefriansyah tamat. Namun ketika upaya itu gagal, Hefriansyah akan semakin kuat dan mudah merebut kekuasaan di periode ke 2 mendatang. Banyak pihak yang menginginkan Hefriansyah tetap bertahan. Tapi, tak sedkit pula berambisi untuk menghabisinya dengan beragam cabang kepentingan.

Gelombang kegaduhan yang muncul akhir-akhir ini akibat hal sepele namun tak mampu diatasi, terkonstruksi dengan sendirinya dan apa adanya. Namun bisa saja, makin ke depan, gelombang itu terus bergulung dan sulit untuk di atasi hingga akhirnya menjadi cikal bakal runtuhnya kekuasaan Hefriansyah.

Perlawanan para pedagang Pasar Horas, Kemarahan masyarakat asli Siantar dari Suku Simalungun terhadap Hefriansyah, merupakan bibit awal yang sulit dinafikkan bakal menjadi ancaman terbesar bagi rontoknya kekuasaan Hefriansyah. Apalagi, ketika perlawanan yang awalnya hanya spontanitas tersebut sudah ditunggangi para pihak yang selama ini berkeinginan menjatuhkan Hefriansyah dari tampuk kekuasaannya, maka yang terjadi, akan semakin sulit bagi Hefriansyah mempertahankan jengkol wali kota tetap menempel di baju kebanggaannya.

Kalau ini benar dan sudah terjadi, pria berdarah Melayu itu pun harus lebih memperkuat kuda-kudanya. Jika tidak, maka siap-siaplah berhenti di tengah perjalanan masa kepemimpinannya. Isu SARA, bukanlah hal mudah untuk menuntaskannya. Hefriansyah harus ingat peristiwa kepala daerah yang terbentur persoalan SARA lalu harus lengser dari tahtanya.

Walau dilihat dari tingkat kesalahan, sesungguhnya Hefriansyah masih berpeluang untuk ‘cuci tangan’ dan lain sebagainya. Terutama, dalam kasus penistaan Suku Simalungun. Namun nasi sudah menjadi bubur. Berat mengucapkan maaf ketika khilaf atau salah yang tak disengaja, bukanah tipikal seorang pemimpin. Hefriansyah, gagal menjadi panutan bagi masyarakat Siantar. (***)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below